Oleh: Irpan
Sekitar seminggu ini telepon genggamku tak terlalu kuhiraukan, pesan Whats App pribadi tak bisa ku balas satu persatu, begitu pula pesan-pesan di group whats app hanya kulihat sekilas.
Seminggu ini kami berbagi shift dengan pemegang kunci-kunci duniaku, saya kebagian shift malam karena kebiasaan begadangku. Dibantu adik kandung perempuan dan mama mertua, kami silih berganti menjaga jagoanku.
Tadi saya tertidur jam 8 pagi, bangun sekitar jam setengah 12 siang. Usai ibadah Jum’atan mataku kembali terjaga. Demi menjaga biar badan ku tak drop, ku minta ke Istri untuk dibelikan air kelapa.
Kali ini diteras rumah, tanganku kembali gatal, otakku kembali berimajinasi untuk sedikit mengulas tentang film ‘Pesta Babi’. Sebelum menulis ini kuminta adikku untuk membuatkan kopi hitam.
Ramai-ramai gelar nobar pesta babi, banyak lembaga di Sultra yang menggelar nobar tersebut. Semacam menjadi isu nasional, merasa ada sebuah panggilan katanya untuk menggelar nobar tersebut.
Saya tak mau fokus ke film tersebut, saya juga salah satu pengagum Dandhy Dwi Laksono, akun medsosnya kuikuti, beberapa film dokumenternya saya tonton, buku-bukunya beberapa saya beli, Saya tak mau masuk mengulas tentang film tersebut, saya belum nonton.
Saya hanya mau berfokus pada kelompok-kelompok di Sultra. Saya akan sedikit mengulas sedikit peristiwa Randi-Yusuf. Saat itu saya baru dua minggu menjadi kuli tinta di salah satu media online lokal pada tahun 2019. Peristiwa itu pecah, diperingati sebagai september berdarah.
Saat itu sangat banyak lembaga yang mengeluarkan kutukan dan kecaman, tapi dari peristiwa itu apa ada yang benar-benar peduli? kalau ada mari carikan saya forum, kita debat terbuka. Kalau di Sultra ada yang mengaku idealis dan putih kasih ketemu saya. Saya biasa nongkrong di kopling nama salah satu kedai kopi di Kota Kendari.
Sebelum menulis ini saya tahu saya akan dikatakan ‘Buzzer’ pemerintah, saya jawab ‘saya nda peduli kau’ netijen maha benar. Lalu apa lagi lembaga-lembaga itu dari yang memiliki jaringan nasional hingga lembaga lokalan ramai-ramai mendesak dan mencopot. Tapi apa ujungnya kita hanya terlihat gagah di ruang-ruang publik, tapi berkompromi di ruang-ruang sunyi. Bahkan mungkin menunggu diamankan (Ini agak sedikit tabuh kalau saya mau buka blak-blakkan). Masyarakat awam juga pasti bingung.
Isu nasional katanya, macam ada kewajiban untuk berkomentar, lalu sudah buat apa kau sama disekitarmu? sudah becus urus dirimu? atau mau tumbalkan lagi adik-adik pergerakan?
Meminjam Peribahasa “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman/semut di seberang lautan tampak” berarti seseorang seringkali tidak menyadari kesalahan atau kekurangan diri sendiri yang besar, namun sangat cepat melihat kesalahan orang lain meskipun sekecil apa pun.
Sudahilah pola-pola seperti ini, pola ini terus berulang seperti menimpa dua perusahaan tambang yang akhir-akhir ini sering digempur oleh lembaga yang mengklaim diri pembela keadilan. Sultra ini kita baku tahu semua.*










